Langsung ke konten utama

Serunya dikerjain Dosen

Kalian, para mahasiswa pasti pernah merasakan ini. Sebenernya bukan dikerjain sih. Lebih tepatnya tu ya, "you have to perfectly perfect in doing assignments". Hal kayak gini sebenernya buruk atau bagus sih? Depends on ya. Ada yang gelisah, marah-marah karena kesel banget sama tugas yang "gak pernah bener di mata dosen". Ada juga yang sabar, logowo, manut, dan yaudah sih nurut aja-in banget mau di apain sama itu dosen dan berfikiran "nanti juga kelar". Ada yang sampe nyumpah-nyumpahin, ada juga yang justru bersyukur dapet dosen yang bersifat seperti itu.

Jadi gini, menurut sudut pandang gue, gue lebih butuh type dosen yang "otoriter" seperti itu daripada type yang "nerima tugas yang penting kelar terus tau-tau dapet A". Kenapa? Dosen seperti yang pertama gue sebut itu berarti peduli. Beliau mendidik dan mengajarkan bahwa bekerja itu tidak boleh setengah-setengah, harus benar. Kalau salah, ya ulang! Kalau keliru, ya di beri arahan biar gak keliru. Kenapa gue bilang seru? Because it's challenging. Lo harus muter otak berkali-kali biar bisa benar di mata dosen itu, lo harus berkali-kali kaget karna ternyata kerjaan lo salah dan harus di refisi lagi, lo harus siap diomelin kalau kerjaan lo itu salah. Beliau mendidik mahasiswi untuk siap "bekerja" di bawah tekanan. Karena, pastinya, dunia pekerjaan itu banyak yang penuh tekanan.  Contoh : bekerja di lembaga keuangan pemerintahan, harus perfect, salah sedikit? Imbasnya pasti besar. Begitu juga menjadi guru. Tanggung jawab seorang guru adalah mendidik siswa-siswi menjadi pribadi yang sukses dimasa depan. Apa itu mudah? Enggaklah. Ada tekanan tersendiri dalam batin seorang "guru" yang "sesungguhnya". Apa saja? Misal Mengenai cara seperti apa yang benar dalam mendidik siswa, tes seperti apa yang dapat mengukur kecerdasan siswa dan dapat meningkatkannya, dll. Walaupun, jika semua dilakukan dengan ikhlas, tekanan tersebut tidak akan terasa.

Meskipun banyak ya teori-teori yang gak setuju dengan metode pengajaran seperti itu dengan berbagai macam pertimbangan yang salah satunya adalah aspek "psikologis" peserta didik yang berbeda. Tapi, menurut gue metode seperti itu adalah metode terbaik untuk mendidik siswa agar melakukan sesuatu tidak "asal-asalan" di manapun bahkan di kehidupan sehari-harinya. Kenapa gue bisa bilang gitu? Karena gue merasakan manfaatnya dengan sangat, selama 3 tahun di SMA di didik dengan guru yang "perfectly perfect" dan sekarang ketemu lagi dengan satu dosen yang tidak jauh berbeda metode mengajarnya seperti guru di SMA, gue merasa bahwa memang "tidak ada alasan yang benar ketika lo berbuat salah". Kayak misalnya tu gini, lo telat dateng ke sekolah, mau lo alesan seperti apapun, ya lo salah. Gak ada alasan pembenaran dalam hal "telat" gak ada toleransi untuk dapet "ceklis" pada waktu presensi di kelas. Gimana ya, yah segala sesuatu itu seharusnya dijalankan sesuai dengan jalur yang udah ada. Gak usah neko-neko lah kalau bahasa jawanya tuh ya ojo neko-neko wae to nduk.

It looks like my life was so boring, right? Nope. Mematuhi aturan bukan berarti hidup gue gak bisa seru.

Dan

Melanggar aturan dan berbuat salah itu wajar, tapi wajarnya ya sekali. Dengan seringnya melanggar aturan, bukan berarti hidup menjadi seru, tapi awal dari hal buruk selanjutnya yang akan lo hampiri. SALAH itu wajarnya dilakukan sekali, kalau berkali-kali itu namanya KURANG AJAR.

Note : bukan berarti gue akan menjadi otoriter seperti beliau ya, I just admire enough.


That's  only my thought.

Sekian. Wassalam ✌️

Komentar

Posting Komentar